(Monday, 20 August 2007) -
Dalam suatu sistem mengatur dirinya sendiri, ada keharusan untuk kreatif. Semua bukti menunjukkan bahwa otak
bekerja sebagai sistem jaringan saraf yang mengatur dirinya sendiri. Mengapa kita tidak memberikan perhatian yang
serius terhadap “berpikir kreatif”, padahal ini merupakan bagian kunci dari berpikir (untuk merancang,
memecahkan masalah, untuk melakukan perubahan dan perbaikan, memperoleh gagasan baru)?
Ada dua alasan mengapa kita mengabaikan “berpikir kreatif”. Alasan pertama adalah kita meyakini bahwa
tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap berpikr kreatif. Kita beranggapan bahwa berpikir kreatif adalah bakat yang
tidak dimiliki semua orang.
Alasan kedua sangat menarik. Setiap gagasan berharga pasti belakangan ditemukan sebagai hal yang logis (sesudah
seseorang menemukan gagasan tersebut). Jika gagasan itu belakangan tidak terasa logis, kita tidak akan
menganggapnya bernilai. Jadi, kita hanya mengakui gagasan-gagasan kreatif yang kemudian terbukti logis. Sisanya
dianggap sebagai gagasan gila. Di antara gagasan-gagasan baru, ada yang kemudian terbukti berguna, dan ada pula
yang dianggap gagasan gila selamanya.
Jika kita berasumsi bahwa gagasan-gagasan kreatif pada akhirnya ternyata logis, seharusnya kita bisa mendapatkan
gagasan-gagasan itu dengan menggunakan kemampuan logika sejak awal. Jadi, kreativitas tidak diperlukan. Yang
diperlukan hanyalah kemampuan logika yang lebih baik.
Asumsi di atas keliru sama sekali. Baru akhir-akhir ini kita menyadari bahwa dalam sebuah sistem yang mengatur
dirinya sendiri (sebagaimana halnya otak), suatu gagasan bisa jadi baru diketahui logis belakangan, tetapi tidak terlihat
demikian pada awalnya. Ini merupakan akibat dari sifat keteraturan pola yang tidak simetris-yang juga merupakan
sumber humor.
Oleh karena cara berpikir tradisional hanya bertumpu pada sistem informasi yang diorganisasi di luar otak (melalui
simbol-simbol yang mengikuti aturan logika), kita tidak pernah melihat kenyataan tersebut.
Orang-orang yang menganjurkan kreativitas juga sama kelirunya-tapi di alur yang berbeda. Orang-orang ini percaya
bahwa semua orang secara ilmiah kreatif, tetapi terhambat. Hambatan tersebut muncul karena adanya kebutuhan untuk
selalu memberikan jawaban yang “benar” di sekolah. Dalam dunia usaha dan dunia professional,
hambatan ini muncul dari kecemasan melakukan kesalahan atau ditertawakan. Jadi, apabila kita berhasil menyingkirkan
hambatan ini, kita akan membebaskan kreativitas alamiah mereka dari kungkuangan.
Sayangnya, kreativitas bukanlah secara alamiah ada di otak. Tugas otak adalah menyerap pengalaman dan
mengaturnya dalam pola-pola-lalu menggunakan pola-pola tersebut. Jadi, membebaskan orang untuk menjadi diri
mereka sendiri hanya meningkatkan sedikit kreativitas (karena hambatannya sudah berkurang).
Jika kita ingin lebih kreatif, kita harus mengembangkan teknik-tejnik berpikir yang khusus. Teknik-teknik- ini adalah
sebagian dari yag saya sebut “berpikir lateral” (yang akan saya jelaskan nanti dibuku ini). Tekniknya tidak
alamiah dan mencakup metode-metode provokasi yang tampak seolah-olah sangat tidak logis. Namun sebetulnya,
metode ini sangat logis dalam sistem pemolaan.
Kreativitas bukanlah soal bakat. Ada teknik-teknik khusus untuk berpikir kreatif dan saya akan menjelaskan beberapa
teknik di buku ini. Saya juga akan menjelaskan bagaimana penggunaan teknik ini untuk membangkitkan cara berpikir
lateral telah berjasa menyelamatkan Olimpiade tahun 1984 yang nyaris gagal.
http://www.duniaguru.com - Portal Duniaguru Powered by Mambo Generated: 10 November, 2007, 21:15
Rabu, 21 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar